5 Serangan Cyber Terbesar Sepanjang Sejarah
Seluruh dunia kini sangat tergantung dengan komputer. Segala sistem kini telah terkomputerisasi, mulai dari perbankan, perdagangan, perbelanjaan, telekomunikasi, maupun informasi. Ini membuat kita di seluruh dunia sangat rentan terhadap serangan cyber.
Oleh
karenanya, perang cyber yang dipicu oleh tekanan dan penangkapan
terhadap pendiri situs WikiLeaks cukup mengkhawatirkan. Pasalnya, para
hacker pendukung WikiLeaks kemudian membidik perusahaan-perusahaan
penyedia layanan keuangan seperti PayPal, Mastercard, dan Visa, sehingga
transaksi keuangan dan perdagangan online melalui layanan-layanan
tersebut bisa terganggu.
Berikut ini, berbagai peristiwa cyber terbesar yang tercatat oleh sejarah, yang dicatat oleh situs Discovery.
1. Serangan Wor Stuxnet (2010).
Serangan worm Stuxnet banyak dipandang oleh para pakar sebagai
salah satu serangan terbesar yang melibatkan kode program yang sangat kompleks.
Serangan
worm ini memanfaatkan berbagai macam celah yang ada di sistem operasi
Windows yang belum banyak diketahui, dan mengincar sistem industri yang
mengendalikan berbagai perangkat mesin di instalasi pembangkt listrik
maupun di pabrik-pabrik.
Tak
salah bila banyak yang curiga bahwa worm ini didalangi oleh pihak yang
besar, bahkan disponsori oleh negara besar, dalalam hal ini adalah
negara barat.
“Level
serangan seperti ini hanya bisa dilakukan oleh pemerintahan sebuah
negara, atau sebuah entitas yang didukung oleh pendanaan luar biasa,”
kata Paul Royal, pakar TI dari Georgia Institute of Technology.
Iran
menjadi negara yang paling banyak tertular oleh worm ini, dan banyak
yang curiga, pihak barat sengaja ingin melumpuhkan pembangkit nuklir
Bushehr dengan worm ini.
2. Operasi Aurora (2009).
Pada
2009, sekitar 30 perusahaan besar termasuk Google dan Adobe Systems,
dikabarkan benajdi korban serangan cyber yang sangat rumit. Para hacker
berhasil mencuri properti intelektual dari perusahaan-perusahaan tadi
dengan memanfaatkan celah keamanan pada browser Internet Explorer.
Vice
President of Threat Research McAfee, Dmitri Alperovitch mengatakan
bahwa ia menemukan kata ‘Aurora’ pada direktori file di komputer
penyerang, saat melakukan pelacakan dari komputer yang telah terinfeksi.
Dipercaya, hacker menamakan Aurora sebagai nama operasi ini.
“Pada
kasus Aurora ini, mereka tidak menginginkan uang. Mereka mengincar
repositori sistem proprietari dan properti intelektual yang dimiliki
oleh perusahaan-perusahaan serta kode sumber sistem yang merupakan hal
yang terpenting dimiliki oleh perusahaan-perusahaan ini,” kata
Alperovitch.
Tak
cuma orang-orang yang bekerja pada perusahaan multinasional yang harus
berhati-hati dengan upaya intrusi ini, namun beberapa tokoh oposisi
China juga diincar. Dari dokumen yang dibocorkan oleh Wikileaks,
serangan ini diinstruksikan oleh seorang petinggi di pemerintahan China.
3. Sentral Komando AS (2008)
Pada
2008 Departemen Pertahanan AS, mendapat serangan. Sumbernya: sebuah USB
flash drive yang tidak berwenang yang diselipkan ke salah satu laptop
di sebuah markas militer AS di Timur Tengah.
Flash
disk tersebut mengandung kode berbahaya yang dikembangkan oleh
intelijen asing dan menyebar melalui sistem komputer Departemen
Pertahanan AS dan menyebabkan data dikirim ke server asing.
Serangan
militer lainnya yang dilakukan melalui media portabel adalah peristiwa
penyalinan 250 ribu data memo diplomatik AS dan video serangan heli
Apache pasukan AS terhadap sekelompok sipil oleh Prajurit Satu Bradley
Manning ke dalam CD Lady Gaga dari salah satu markas militer AS di Irak.
4. Georgia (2008)
Pada
2008 Rusia dan Georgia terlibat konflik di Ossetia Selatan. Serangan
cyber melumpuhkan beberapa situs pemerintah Georgia dan situs-situs
media lokal, setelah Georgia menyerang Ossetia Selatan. Ini merupakan
serangan yang mirip dengan serangan ke Estonia pada 2007.
Serangan
terhadap Georgia juga dilakukan menggunakan metoda Distributed Denial
of Service. Siapapun dalang serangan ini sepertinya telah mengembangkan
botnet, di mana masyarakat bisa mengunduhnya untuk membantu serangan
terhadap situs-situs Georgia.
5. Estonia (2007)
Estonia
menghadapi gelombang serangan cyber yang melanda segenap infrastruktur
internet negara itu, mulai dari situs-situs pemerintahan, perbankan,
hingga situs-situs surat kabar lokalnya.
Serangan
ini terjadi bersamaan dengan perseteruan antara Estonia dan Rusia
terkait dengan rencana pemindahan makam Tallinn oleh pemerintahan
Estonia. Para analis media menyebut konflik ini sebagai perang cyber
pertama. Namun, pihak Rusia sendiri membantah bahwa serangan-serangan
terhadap Estonia dilancarkan oleh pemerintah Rusia.

